Gadis-gadis Cantik Bermahkota Bunga di Indramayu

Posted by on Kamis, 28 Desember 2017
 
Adat Ngarot Desa Lelea, Indramayu. (Foto : Detik Travel)
Portal Dermayu. Tradisi Ngarot di Indramayu digelar sebagai wujud rasa syukur akan hasil panen melimpah. Dalam Ngarot ini, gadis-gadis tampak cantik dan mengenakan mahkota bunga.

Sedari ba'da Subuh masyarakat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mulai sibuk. Hari ini, masyarakat Desa Lelea merayakan tradisi tahunannya.

Anak gadis di Desa Lelea mulai berdandan sejak pagi, ada juga yang berdandan di depan rumahnya. Pemandangan yang menarik tentunya. Bunga kenanga dan hiasan bunga yang terbuat dari kertas tergeletak di depan rumah. Bunga-bunga tersebut merupakan pelengkap riasan para gadis di desa itu.

Tentu agar terlihat cantik. Pasalnya, anak gadis di Desa Lelea itu bakal diarak keliling desa dan ditutup dengan penyerahan alat-alat untuk bercocok tanam kepada anak gadis dan sejumlah remaja pria. Tradisi tersebut dikenal sebagai tradisi Ngarot.


detikTravel menemui Sinih (45) yang saat itu tengah merias keponakannya, Dinda Fitria (15). Dinda tampak cantik pagi itu. Parasnya manis, rambutnya tergelung rapih dengan kebaya putih. Sinih saat itu sedang menyelipkan bunga kenanga di rambut Dinda. Seluruh rambut Dinda dipenuhi dengan bunga kenanga dan bunga hiasan yang terbuat dari kertas.

Dinda mengaku sudah tiga kali mengikuti tradisi Ngarot. Wajah Dinda terlihat sumringah. "Kalau tahun lalu mah warna kebayanya hijau, sekarang putih. Bedanya itu saja antara tahun ini dengan tahun lalu, warna kebaya itu pihak desa yang menentukan," kata Dinda saat ditemui detikTravel di kediamannya di Blok Ilir Desa Lelea, Rabu (27/12/2012).

Sejak usia 12 tahun, Dinda tak pernah absen mengikuti tradisi Ngarot. Bahkan, dikatakan Dinda mayoritas anak gadis di Desa Lelea itu pernah mengikuti Ngarot. "Teman-teman sekolah saya banyak yang ikut kok," katanya seraya bercermin.

Menjaga warisan leluhur menjadi salah satu alasan Dinda untuk ikut Ngarot, termasuk dorongan orangtuanya. "Senangnya itu dapat uang. Keluarga dan saudara tuh pada ngasih uang kalau ikut Ngarot. Lumayan, uangnya cukup buat beli baju," ucap Dinda.

Sementara itu, Sinih mengaku harus menggelontorkan biaya sekitar Rp 500 ribu untuk merias ponakannya tersebut. Namun, bagi Sinih soal materi tak akan ada harganya demi menjaga tradisi yang sudah diwariskan leluhurnya.

"Habis setengah juta untuk merias nih. Tapi, jangan hitung-hitungan biaya saya ingin menghargai leluhur. Mulai merias tuh sekitar jam 05.00 WIB," kata Sinih.


Saat masih gadis, Sinih mengaku hanya dua kali mengikuti Ngarot. Baginya, Ngarot merupakan identitas Lelea. "Ya jangan sampai punah. Harus dilestarikan. Nanti leluhurnya ngamuk kalau tak dirayakan sih," ucap Sinih seraya tersenyum. (Detik Travel)

Baca juga :




logoblog
Gadis-gadis Cantik Bermahkota Bunga di Indramayu

» Thanks for reading: Gadis-gadis Cantik Bermahkota Bunga di Indramayu